Seruput Susu Coklat Dari Kebun Petani Kakao

Dalam Workshop Internasional yang dilaksanakan di UNTAD pada Desember 2016. Menjelaskan tentang bagaimana sistem kapital bekerja di dalam dunia pertanian seperti yang di jelaskan oleh Tania Li tentang perubahan jenis tanaman pangan ke tanaman komoditi yang terjadi di pedalaman Laudje sulawesi tengah.

Tentang bagaimana tanaman komoditi tersebut telah mengubah banyak hal. Dari kehidupan sosial sampai pada tata konsumsi dan tata produksi petani.

Belum lagi di tambah dengan kurangnya pengetahuan petani tentang bagaimana merawat tanaman kakao yang rentan terhadap hama. Di tambah lagi kebutuhan pasar yang selalu berubah-ubah.

Cerita tentang petani Laudje yang dituliskan oleh Tania Li mungkin agak berbeda dengan cerita petani kakao di dusun Buyukatedo Kab. Poso. Mereka mengingat dengan jelas ketika mereka meninggalkan kampung dan tidak lagi memperhatikan tanaman Kakao terjadi pasca konflik sehingga banyak kakao yang rusak. Menurut ibu Nurlaela Lamasitudju.

Pendiri rumah belajar ini merasakan betul bagaimana sulitnya mengorganisir rakyat. Selama setahun rumah belajar tak pernah berbicara msalah konflik meskipun sebenarnya tujuan didirikannya Rumah Belajar sebagai media pendekatan pada korban kekerasan saat konflik Poso.

Tetapi ternyata banyak hal yang meski diselesaikan oleh Rumah Belajar sebelum mencapai maksud dan tujuan tersebut. Mulai dari menyelesaikan persoalan air, kebun, anak-anak, perempuan yang buta aksara, sampai politik kampung.

Dan saat ini mereka sedang mengelolah coklat dari perekebunan kakao yang hampir punah dan tak terawat. Dari tangan dingin Saripudin atau biasa di kenal dengan Yuyut jadilah coklat dari kebun petani. Rumah belajar berharap dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan-pelatihan, masyarakat bisa lebih mandiri dan berdaya saing.

Sumber : Rara Laki

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment