Pelatihan Pandu Warga Rumah Belajar Buyu Katedo, Poso

Buyu Katedo: Sebuah dusun kecil di pebukitan, sekitar 15 km ke arah timur dari Kota Poso. Di sana, Skp-ham Sulteng yang dibantu Ajar Asia Justice Rights merintis sebuah wadah yang kemudian dinamakan sebagai “Rumah Belajar”. Rumah Belajar Buyu Katedo, demikian kemudian mereka menyebutnya. Rumah Belajar ini harapannya akan bisa dijadikan ruang belajar bersama, terutama belajar tentang berbagai hal yang terkait dengan “hak-hak warga”. Rumah Belajar Buyu Katedo memulainya dengan aktivitas “berkebun ekologis” untuk menata lingkungan, menumbuhkembangkan keberagaman, dan sekaligus merawat perdamaian.

Buyu Katedo dibuka dan dirintis menjadi lahan kebun dan pertanian oleh (Alm.) K.H. Abdul Karim Lamasitudju, ayahanda Nurlaela Lamasitudju, pada tahun 1981 bersama sejumlah warga dari Desa Tongko, Desa Toyado, Desa Tegalrejo, dan warga beretnis Bugis yang berdiam di Poso. Ketika pertama kali lahan ini dibuka, mereka menggarap padi ladang, jagung, sayur-mayur, dan berbagai jenis buah-buahan. Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, lahan di Buyu Katedo dipenuhi dengan pohon coklat. Hanya satu-dua dari mereka yang masih menggarap padi ladang dan jagung; meskipun buah-buahan, terutama langsat (Lansium domesticum), tetap dipertahankan dan berjejak sampai sekarang.

Buyu Katedo sempat ditinggalkan, terutama pascaterjadinya “Peristiwa Buyu Katedo” yang dipandang mengawali konflik horisontal di Poso (fase IV) pada tahun 2001. Peristiwa Buyu Katedo ini pula yang kemudian dijadikan salah satu alasan oleh segelintir orang untuk melakukan aktivitas radikal-bersenjata yang dipandang berbahaya dan mengancam keamanan negara.

Akhir Juli 2016 lalu, dari 25 s.d. 31 Juli, Rumah Belajar Buyu Katedo mengadakan pelatihan pengembangan kapasitas untuk menjadi pengorganisir warga (community organizer)–yang istilah itu kemudian disederhanakan menjadi “Pandu Warga”– dengan memanfaatkan kebun ekologis sebagai praktik belajarnya. Bung Herizal E Arifin, fasilitator dari Bandung yang telah malang-melintang di dunia pengembangan organisasi dan hak asasi manusia, ditemani oleh Yuslam Fikri Ansari (Yufik), seorang pembuat film dokumenter yang kini mengelola Buruan Bumi Agroekologi Bangkong Reang Candali, Bogor, hadir untuk memfasilitasi pelatihan tersebut.

Tidak kurang dari 20 orang turut terlibat sebagai peserta pelatihan itu. Peserta pelatihan tidak saja dari warga Buyu Katedo dan perwakilan warga dari desa-desa di sekitarnya (Tongko, Toyado, Tegalrejo, dan Toini); pun, pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari Sigi, Donggala, dan Palu (yang selama ini terlibat di Kelompok Kerja SKP-HAM Sulteng) serta para aktivis mahasiswa dari Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar), Poso.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Avatar

Leave a comment