Lokakakarya Membangun Dapur Usaha “Saatu Mombine Padagi”

Kabuaten Sigi adalah salah satu wilayah yang terdampak cukup berat akibat bencana pada 28 September 2019.Irigasi dan lahan pertanian warga banyak yang rusak. Akibatnya, warga Sigi, terutama yang bermukim di wilayah Kecamatan Dolo Induk, yang mayoritas adalah petani, banyak yang harus kehilangan sumper pencahariannya.

Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) dan Kemitraan menjalin kerjasama untuk melakukan Lokakarya Membangun Dapur Usaha. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Saatu Mombine Padagi”,mengajak para perempuan untuk kembali bangkit dengan membuat usaha atau mengembangkan usaha yang sudah ada.Desa Karawana, Soulowe, Potoya, dan Sidera adalah empatdesa yang diajak dalam kegiatan dapur usaha tersebut. Ada 109 orang yang kemudian turut terlibat di dalam kegiatan ini: 106 perempuan dan 3 orang laki-laki.

 Lokakarya membangun dapur usaha ini dilaksanakan selama tiga hari, dari 24 sampai 26 Maret 2019. Dalam kegiatan ini, mereka diajak untuk mengidentifikasi dan melihat apa saja yang menjadi hambatan dan peluang usaha mereka selama ini. Selain mengidentifikasi hambatan dan peluang, mereka juga diminta untuk menuliskan jenis-jenis usaha yang akan mereka buat, memetakan bahan, dan menghitung modal yang dibutuhkan.

Beragam usaha kecil terpapar dan dipresentasikan oleh para peserta dalam kegiatan tersebut: ada yang membuat nasi kuning, kue basah, kue kering, kelontong, minyak kampung, dan ada juga yang membuat usaha di bidang kerajinan dan fashion. Dalam kegiatan ini pun, mereka didorong untuk membuat inovasi agar usaha mereka jadi lebih baik dan menarik.

Pada hari terakhir, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), yang tengah membangun Radio Komunitas di Desa Karawana, turut hadir untuk menyemangati para peserta dan menawarkan peluang kepada para peserta untuk memanfaatkan radio komunitas untuk promosi usaha mereka. Tawaran ini disambut baik, bahkan ada beberapa kelompok yang sudah memasukkan Radio Komunitas dalam perencanaan promosinya.

“Saya dapat ilmu bagaimana saya menghitung modal dan pengeluaran, serta bagaimana cara saya  memanajemen waktu saya,” ucap Khadijah, salah seorang peserta dari Desa Potoya. Selama ini, Khadijah sudah memiliki usaha kue kering dan nasi kuning, namun belum optimal karena masih hanya mengandalkan pesanan. Selama dia menjalankan usahanya itu, dia nyaris tidak pernah menghitung berapa modal dan berapa keuntungan yang didapat. Itu pula yang menurutnya, usahanya tidak bisa maju dan berkembang.

“Jadi, kegiatan ini bermanfaat sekali. Ke depan, saya jadi tahu bagaimana harus mengelola usaha saya itu,” lanjutnya, di sela-sela belangsungnya kegiatan.***

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Rini Lestari

Leave a comment