MONITORING DAPUR USAHA DESA POTOYA

SKP-HAM Sulteng melakukan monitoring Dapur Usaha di Desa Potoya pada 15 Mei 2019. Setelah bantuan berupa peralatan usaha yang dibagikan pada tanggal 1 Mei lalu, saat ini Dapur Usaha yang telah terbentuk sudah mulai menjalankan usahanya. Monitoring yang dilakukan SKP-HAM Sulteng, adalah bertujuan untuk memantau sudah sejauh mana usaha mereka berjalan, dan siapa semua dari kelompok usaha ini yang sudah menjalankan usahanya. Hal ini juga termasuk kendala-kendala yang ditemukan dilapangan, apabila ada kelompok usaha yang belum berjalan.

Monitoring Dapur Usaha ini akan dilakukan di semua desa yang telah tergabung sebelumnya, yaitu Desa Potoya, Soulowe, Karawana dan Sidera. Di empat desa ini ada beberapa kelompok yang sudah terbentuk, dan juga mendapatkan bantuan berupa peralatan dan bahan usaha yang di dukung oleh Kemitraan. Usaha yang mereka kelola pun bermacam-macam, ada berupa makanan, kue kering, kue basah, es buah, burasa, dan ada juga yang bergerak di bidang fashion.

Agenda monitoring ini selain untuk memantau perkembangan usaha ibu-ibu, juga untuk mengetahui manfaat apa yang didapatkan oleh mereka dari peralatan dan bahan yang diberikan. Dan juga untuk mengetahui harapan-harapan dari ibu-ibu Dapur Usaha dengan dibentuknya kelompok ini, setelah pelatihan yang diberikan di awal pertemuan.

Banyak ibu-ibu dapur usaha yang ada di Potoya memanfaatkan momen Ramadhan dan lebaran yang sebentar lagi akan tiba. Mereka yang mendapatkan bantuan berupa oven, mixer, dan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk membuat kue, mulai menerima pesanan membuat kue untuk lebaran. Beberapa dari mereka ada yang sudah mulai membuat kue. Seperti ibu Vini misalnya, yang pada saat ditemui ia sedang membuat kue kering yang merupakan pesanan konsumen.

Hal serupa juga dilakukan oleh ibu Novi, sempat berhenti berjualan pasca bencana terjadi karena beberapa peralatannya yang rusak dan hilang, kini ia sudah kembali berjualan setelah mendapat bantuan peralatan usaha. Ibu Novi menjual nasi goreng dan es cukur, dengan penuh percaya diri ia mengatakan jika nasi gorengnya ini berbeda dari nasi goreng lainnya. “Nasi goreng saya ini beda dari yang lain mbak, kalau nasi goreng lain biasanya warna merah, saya punya dominan warna hitam karena saya pakai bumbu yang spesial,” ungkapnya saat ditanya soal usaha yang ia jalankan.

Banyak cerita inspiratif lain selama monitoring berlangsung. Ibu-ibu dari desa kecil di Kabupaten Sigi ini mempunyai semangat luar biasa. Mereka tidak terus-terusan terpuruk dengan krisis yang terjadi di desanya saat ini. meskipun harus berjuang dengan kondisi huntara yang sangat panas saat siang hari, dan menunggu matahari tenggelam untuk bisa mengerjakan usaha yang mereka tekuni, tapi sedikitpun tidak ada kata  meyerah dari bibir mereka. ***

 

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment