MONITORING DAPUR USAHA  DESA  SOULOWE

Tinggal  dalam satu desa yang sama belum menjadi jaminan jika kita saling mengenal satu sama lain. Mungkin hal ini yang dirasakan oleh ibu-ibu Dapur Usaha di Desa Soulowe. Banyak ibu-ibu yang berbagi cerita tentang manfaat pelatihan yang diberikan, saat tim sekretariat SKP-HAM melakukan monitoring pada Kamis kemarin. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa dengan adanya pelatihan pada Lokakarya Membangun Dapur Usaha pada 24 sampai 26 Maret lalu, mereka jadi mengenal banyak orang di desanya yang sebelumnya tidak mereka kenali sama sekali, bahkan mereka merasa memiliki banyak teman baru.

Manfaat lain yang di peroleh adalah bisa melakukan perhitungan untung rugi dari usaha mereka,  yang awalnya tidak mereka ketahui sama sekali. Mereka juga merasa senang dengan pelatihan yang telah diberikan, karena banyak sekali manfaat yang mereka dapatkan.

Setelah bercerita tentang manfaat dan pengalaman selama mengikuti pelatihan, mereka mulai bercerita tentang perkembangan usahanya saat ini. Beberapa  memaparkan tentang kendala yang dihadapi dalam menjalankan usaha. Seperti ibu yang menjual es pisang hijau misalnya, ia mengatakan bahwa saat ini harga pisang sangat mahal. Harga pisang satu sisirnya mencapai Rp.10.000 sampai Rp.15000, hal ini membuat mereka kesulitan menentukan harga yang harus diberikan dalam satu porsi pisang hijau.

Kendala yang dirasakan oleh ibu-ibu penjual nasi kuning pun berbeda. Ibu Susiyanti misalnya, “ini kita bingung mau tentukan harga. Kita mau jual nasi kuning Rp.5.000 satu bungkus, tapi  orang lain masih jual Rp.2.000 satu bungkus, sementara kita harus ikuti harga teman yang lain. Jadi serba salah kita ini,” ucapnya. Begitu juga dengan ibu Rita yang sama-sama menjual nasi kuning di sekolah-sekolah.

Usaha kios mengalami kendala yang berbeda pula, di bulan ramadhan ini pendapatan mereka  lebih sedikit dari hari biasa. Ibu-ibu yang punya usaha kios memilih berjualan es campur, es buah ataupun es lilin untuk menambah penghasilan sehari-hari.

Kendala lain yang dihadapi, tidak hanya oleh kelompok dapur usaha tapi juga seluruh warga di Desa Soulowe adalah masalah air bersih. Banyak rumah warga yang air sumurnya mengalami kekeringan, air dap pun juga sudah tidak keluar seperti biasa. Bahkan akibat tidak adanya air yang mengairi lahan persawahan, banyak bapak-bapak yang memutuskan pergi ke kota untuk mencari kerja.

“Seharusnya yang diutamakan itu air gumbasa, rumah itu nomor dua. Kalau air sudah mengalir berguna semua ini. Kenapa pemerintah tidak mengutamakan air dulu, bisa mati manusia kalau tidak ada air. Kalau sudah ada air kan bisa diratakan semua tanah yang miring-miring ini. Saya jadi berfikir bagaimana orang-orang yang tidak biasa jualan ini, apalagi yang ada anaknya sekolah.” Ungkap Indomili, salah satu ibu Dapur Usaha penjual kue dan nasi kuning  yang merasa prihatin dengan keadaan di Desa Soulowe.

Perbaikan gumbasa dan air irigasi yang mengairi persawahan Desa Soulowe dan sekitarnya, dikabarkan baru akan selesai pada tahun 2021. Berita itu pun masih simpang siur dan belum diketahui kepastiannya. Dalam kondisi ini, masyarakat yang mayoritas seorang petani dan buruh tani tentu bingung mencari pekerjaan. Beberapa ibu-ibu yang mempunyai usaha nasi kuning meminta air pada tetangga yang air sumurnya masih ada, karena mereka membutuhkan banyak air dalam usahanya. Terutama mereka yang tinggal di huntara karena saat ini tidak ada lagi pasokan air yang datang untuk menyediakan air bersih.***   

 

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Rini Lestari

Leave a comment