Pentingnya Pemulihan Psikologi Korban Pasca Konflik dan Bencana

Manusia dikenal sebagai mahluk yang sangat mudah lupa, terutama terhadap hal-hal kecil yang dianggap tidak begitu penting. Di Indonesia, ‘budaya lupa’ sudah menjangkit banyak orang, dan yang menjadi  riskan adalah karena yang dilupakan bukan hanya hal-hal kecil,  tapi juga peristiwa-peristiwa besar yang memakan banyak korban dan menyebabkan kerugian besar. ‘Budaya lupa’ ini yang membuat banyak orang menjadi apatis terhadap hal-hal di sekitarnya.

Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi seperti bencana alam, kerusuhan, sampai pada pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu, merupakan beberapa hal yang saat ini mulai dilupakan oleh masyarakat kita. Hal yang sering dilupakan dari semua peristiwa ini adalah dampak psikologi. Pemerintah dan masyarakat pada umumnya hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur dan ekonomi, tapi cenderung acuh pada dampak psikologi yang justru akan berdampak panjang bagi korban.

Universitas Atma Jaya Jakarta, salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Indonesia yang juga dikenal sebagai Universitas yang mempunyai prestasi gemilang, dan kredibilitas Nasional. Saat ini sedang melakukan riset awal lintas disiplin psikosomatis  pasca konflik. Tentang bagaimana Negara mengatasi trauma akibat konflik yang terjadi di masa lalu dan berdampak hingga sekarang. Baik itu konflik pelanggaran hak asasi atau bencana yang terjadi.

Dua perwakilan dari Universitas Atma Jaya, bersama dengan SKP – HAM Sulawesi Tengah, dan juga beberapa kelompok masyarakat melakukan diskusi tentang dampak dari peristiwa-peristiwa tersebut yang masih berdampak hingga saat ini. Pada selasa 9 Juli 2019, diskusi berlangsung dan bertempat di Rumah Peduki SKP-HAM, dimulai dari jam satu siang sampai sekitar jam empat sore.

“Sebenarnya saya rasa masalah ini tidak akan sampai serumit ini jika isu tentang pelanggaran HAM-65 sering diangkat dan dibicarakan oleh masyarakat dan juga pemerintah. Tapi saat ini jangankan korban, masyarakat biasa yang tidak mengalami langsung tragedi 1965 juga takut membicarakan masalah ini, ini yang membuat sampai sekarang tidak terselesaikan.” Ungkap Asman Yodjodolo, salah seorang penyintas kekerasan dan kerja paksa yang terjadi pada 1966-1966.

Selain menjadi korban pelanggaran HAM berat dimasa lalu, Asman Yodjodolo juga menjadi korban bencana PASIGALA yang terjadi 28 September 2018 silam. Ia menambahkan bahwa korban bencana masih banyak yang tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal ini membuat korban – 65 semakin terpuruk, karena menjadi korban langsung dari dua peristiwa besar yang berbeda dan tidak tertangani dengan baik.

“Yang menyebabkan trauma saya rasa bukanlah peristiwanya, tapi cara penyelesaian yang dilakukan oleh pemerintah.” Ungkap Nurlaela Lamasitudju selaku Sekjen SKP-HAM Sulawesi Tengah, mengingat cara pemerintah menangani bencana yang terjadi, sehingga masyarakat yang kehidupannya sebelum bencana sudah kekurangan dan semakin bertambah buruk pascabencana terjadi.

Dampak lain yang terjadi pada kaum muda, adalah munculnya sikap apatis. Ketergantungan terhadap internet dan sosial media, merupakan salah satu alasan yang menimbulkan sikap apatis tersebut. Hal ini tentu kembali pada ‘budaya lupa’ yang telah dibahas diatas, kaum muda begitu cepat melupakan peristiwa-peristiwa yang seharusnya bisa menjadi pelajaran karena mereka teralihkan oleh dunia digital.

Sakit perut dan sakit kepala yang terjadi secara terus-menerus, merupakan salah satu indikasi bahwa korban mengalami stress atau gejala psikosomatis. Hal ini bisa semakin memburuk jika gejala-gejala awal seperti ini tidak segera diatasi dengan benar. Proses pemulihan tidak akan berhasil jika psikologi korban masih terganggu. Dengan pulihnya kondisi psikologi korban, maka bisa mengurangi risiko bencana dimasa yang akan datang.

Fakta bahwa Sulawesi Tengah berada dalam zona Ring Of Fire atau cincin api, yang tentunya rentan akan bencana alam adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Hal ini harusnya bisa membuat pemerintah untuk melakukan mitigasi  bencana dengan benar disetiap daerah. Menjadikan pelajaran dari setiap bencana yang terjadi untuk  memperbaiki konsep mitigasi  yang sudah ada, dan memperbaharuinya secara terus-menerus.

Masyarakat harus diedukasi dengan pengurangan risiko bencana sejak dini, agar kelak dapat mengurangi jumlah korban dan kerugian yang terjadi. Oleh karena itu mengapa menjadi penting untuk memulihkan kondisi psikologi korban, bukan hanya terfokus pada pemulihan bangunan dan ekonominya. Masyarakat yang telah pulih dari trauma, tentu akan bisa lebih rasional dalam menerima edukasi tentang pentingnya mitigasi  bencana.***

 

 

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment