Proses Penanganan Masalah Air Desa Soulowe

28 September 2019 tahun ini, akan genap memperingati  satu tahun pascabencana yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah. Meskipun sudah hampir satu tahun pascabencana terjadi, dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penanganan bencana, akan tetapi masih banyak aktivitas masyarakat yang  belum kembali seperti sedia kala. Seperti masyarakat Desa Soulowe yang sampai saat ini  belum bisa kembali bertani karena tidak ada air yang mengaliri lahan persawahan mereka.

Masyarakat Desa Soulowe  sebagian besar adalah petani dan buruh tani. Bencana yang terjadi 28 September 2018 lalu mengakibatkan irigasi rusak dan keringnya air irigasi gumbasa yang digunakan untuk mengairi sawah di Desa Soulowe. Hal tersebut mengakibatkan sebagian besar masyarakat Desa Soulowe kehilangan pekerjaan mereka, terutama masyarakat yang selama ini hanya mendapatkan penghasilan dengan menjadi buruh tani.

12 Agustus 2019 lalu, tim penggerak Desa Soulowe yang tergabung dalam program Rekonstruksi Berbasis Komunitas melakukan pertemuan bersama warga dan pemerintah desa untuk membahas persoalan air di Desa Soulowe. Dalam pertemuan tersebut, diperoleh beberapa informasi dari warga tentang keadaan air  di Soulowe. Salah satunya adalah 7 sumur suntik yang mengalami kekeringan dari 15 titik sumur suntik yang dibuat oleh pemerintah desa.

Melanjutkan pertemuan yang dilakukan pada 12 Agustus, tim penggerak di Desa Soulowe kembali mengadakan pertemuan pada 30 Agustus 2019 untuk membahas lebih jauh lagi masalah air desa tersebut dan cara menanganinya. Pertemuan kali ini di hadiri oleh Balai Sungai, masyarakat Soulowe, Pusat Krisis (PUSKRIS) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dan Dr. Abdullah yang merupakan dosen di Universitas Negeri Tadulako Palu, sekaligus peneliti Sesar Palu Koro. Pertemuan ini bertempat di Rumah Peduli SKP-HAM di Jalan Basuki Rahmat, dan di fasilitatori oleh sekjend SKP-HAM yaitu Nurlaela Lamasitudju.

“Soulowe adalah wilayah yang berpotensi likuifaksi, jika peristiwa 28 September itu lebih lama durasinya, maka Soulowe akan juga  terdampak,” ungkap Dr. Abdullah saat membahas kondisi wilayah Soulowe saat bencana terjadi. Balai sungai menyampaikan bahwa  penyebab dari keringnya air di Desa Soulowe adalah karena terbelahnya tanah pada irigasi gumbasa, sehingga air yang mengaliri irigasi tersebut merembes melalui pori-pori tanah yang terbuka. Balai Sungai juga menambahkan bahwa saat ini  mereka sedang  fokus  untuk menangani masalah air yang diperuntukkan untuk keseluruhan.   

“Jadwal untuk pengerjaan air sudah ditetapkan oleh PU dan sampai sekarang masih dilelang hingga bulan Desember dan mulai awal pengerjaannya mungkin di akhir tahun 2020. Tim Balai Sungai masih mengadakan survey  untuk wilayah-wilayah yang akan ditentukan air bersihnya.” Tambah salah satu pihak dari Balai Sungai yang menghadiri pertemuan.

Pemerintah Desa Soulowe sendiri sedang merancang anggaran desa untuk kelompok tani yang menjadi sumber ekonomi untuk desa. Sementara pihak PUSKRIS, akan mendukung masyarakat Soulowe dalam mengatasi permasalah air minum mereka.***

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Rini Lestari

Leave a comment