Launcing Buku Menyemai Perubahan” Jadi Panggung Penggerak di Empat Desa

Senin 16 Maret 2020, SKP-HAM Sulteng, Institute Mosintuwu, Indonesia Untuk Kemanusiaan, dan Rukun Bestari menggelar kegiatan launcing buku yang berjudul “Menyemai Perubahan”.  Kegiatan ini bertempat di Rumah Peduli SKP-HAM Sulteng Jl. Basuki Rahmat Lrg. Saleko II Kel. Birobuli Utara yang dihadiri lebih dari 30 orang pelaksana rekonstruksi berbasis komunitas pasca bencana di empat Desa yaitu Desa Labuan Toposo, Toaya, Lemusa dan Desa Soulowe.

Buku “Menyemai Perubahan” merupakan hasil pemaknaan dari proses rekonstruksi yang dilakukan oleh penggerak di empat Desa. Buku ini ditulis oleh Chalid Muhammad, Lian Gogali, Mohamad Herianto, Moh. Ridwan Lapasere, Neni Muhidin, Nurlaela Lamasitudju, Rahmadiyah Tria Gayatri

Foto Bersama Penggerak Desa, Pendamping dan Pemakna

Kegiatan launcing buku ini menjadi panggung bagi penggerak untuk berbagi pengalaman mereka. Salah satu penggerak dari Labuan Toposo Feriyanto mengatakan bahwa ia mau terlibat di program rekonstruksi ini karena ingin membantu Desanya untuk bangkit pasca  bencana. Menurutnya selain terdampak cukup parah Desa Labuan Toposo juga menjadi wilayah penyangga bagi Desa-Desa tetangga. Selain itu pasca bencana Warga di Labuan Toposo khusunya yang tinggal di Dusun Sisere mengalami kesulitan untuk mengakses bantuan pasca bencana.

Pernyataan Feriyanto ini juga di pertegas oleh Novian yang juga merupakan penggerak di Labuan Toposo. Ia mengatakan bahwa saat bencana di Dusun Sisere terjadi longsor sehingga bantuan sangat kurang di dapatkan oleh warga pada masa tanggap darurat. Selain itu Dusun Sisere ini sangat terpencil dan jauh dari akses pemerintahan dan fasilitas umum terutama akses pendidikan dan kesehatan sehingga banyak warga terutama anak-anak putus sekolah.         

Hal tersebut menjadi alasan bagi penggerak dan SKP-HAM Sulteng selaku organisasi pendamping untuk memilih Desa Labuan Toposo khususnya di Dusun Sisere sebagai wilayah  intervensi program rekonstruksi. Lalu kemudian membangun rumah belajar yang menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar tentang kebencanaan dan HAM terutama hak-hak sebagai warga Negara serta pengetahuan lainnya.

Selain feriyanto dan Novian,  penggerak dari masing-masing Desa lainnya juga berbagai pengalaman mereka bagaimana proses rekonstruksi itu dilakukan dan mengapa mau terlibat pada program ini.

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Korta Desmayanto

Leave a comment