Musrembang RKPD Kota Palu 2020

Musrembang  RKPD Kota Palu kembali diadakan pada 25 Maret 2019. Bertempat di Citra Mulia Hotel & Convention, kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kelompok OPD dan kelompok masyarakat marginal, di antaranya adalah kelompok masyarakat korban pelanggaran HAM 1965/1966, transpuan, dan kelompok difabel yang diwakili oleh Gerkatin, HWDI, dan Pertuni.

“Membangun Kembali Kota Palu yang Lebih Baik, untuk Kemandirian Ekonomi yang Berdaya Saing” adalah tema yang diangkat pada Musrembang RKPD tersebut. Kepala BAPPEDA menyatakan, tujuan dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk memperkuat usulan dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk yang sebelumnya telah dipaparkan dalam Musrembang inklusi. Selain usulan dari Musrembang Inklusi, pemerintah Kota Palu juga mengadakan Forum OPD/Lintas OPD bidang ekonomi dan keuangan  yang telah dilaksanakan pada 20 Maret lalu untuk memperoleh masukan agar terjadi penajaman target kinerja program dan kegiatan untuk pembangunan tahun 2020.

Walikota Palu dan wakil wali Kota Palu yang tidak dapat hadir pada kesempatan itu, diwakili oleh sekertaris daerah Kota Palu untuk memberikan sambutan. Acara berlanjut pada pemberian penghargaan pada OPD dengan dana serapan terbaik pada tahun 2018. Dan juga pemberian penghargaan pada RKA terbaik tahun 2019. RKA terbaik ini diberikan kepada RSU Anuntapura, Badan Penanggulangan Bencana, dan Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan.

Acara dibuka dengan pemaparan usulan dan masukan yang telah diterima dari forum OPD dan Musrembang Inklusi sebelumnya. Pembahasan berfokus pada infrastruktur dan pembangunan ekonomi. “Pak Wali mengatakan, kalau masalah pembangunan yang besar-besar itu tidak usah dipikirkan bapak-bapak  dan ibu-ibu sekalian. Karena tanpa dipikirkan pun itu sudah menjadi rencana pembangunan, dan tanggung jawab pemerintah kota,” ucap kepala BAPPEDA dalam pemaparannya.

Sebagian besar perwakilan kelompok masyarakat berharap, musrembang ini akan membuahkan hasil dan pembangunan di Kota Palu akan semakin baik, baik pembangunan di bidang ekonomi maupun infrastrukturnya. Mereka juga berharap, semua usulan yang telah diajukan akan diimplementasikan hingga selesai, bukan hanya dijadikan wacana atau formalitas semata.

“Ini pertama kalinya saya diundang dalam Musrembang Kota. Dua tahun sebelumnya, saya tidak pernah diundang,” ucap Ilyas, perwakilan dari kelompok difabel penyandang tuna netra (Pertuni). Ilyas berharap, usulan program kelompok difabel yang telah diajukan di Musrenbang Inklusi bisa diterima dan dilaksanakan. “Kemarin (di Musrembang Inklusi), kami usulkan adanya pelatihan pijat dan kerajinan tangan,” lanjutnya.Bagi Ilyas, yang penting, para penyandang difabel bisa mendapatkan penghasilan, meski hanya dari usaha kecil-kecilan.***

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment