FGD Bersama Kelompok Rentan dan Jurnalis Asal Negeri Sakura

Pada hari Rabu tanggal 18 September 2019, seorang jurnalis perempuan yang berasal dari Jepang bertandang ke Rumah Peduli SKP-HAM Sulawesi Tengah, yang berada di Jalan Basuki Rahmat Kota Palu. Jurnalis perempuan ini bernama Noriko Akiyama, yang merupakan seorang jurnalis dari The Asahi Shimbun.

The Asahi Shimbun adalah salah satu dari lima surat kabar nasional yang ada di Jepang, yang diluncurkan sejak tahun 1879. The Asahi Shimbun telah menetapkan tempatnya sebagai surat kabar berkualitas terkemuka  di Jepang, yang jumlah pembacanya mencapai angka 21 juta orang per hari dan bertahan sampai saat ini.

Kedatangan Noriko Akiyama ke Palu adalah bertujuan untuk  melakukan FGD (Focus Group Discussion), terkait penanganan bencana berperspektif  gender di Palu, Sigi, dan Donggala. SKP-HAM sendiri menjadi fasilitator atau penghubung,  yang menghubungkan Noriko Akiyama dengan orang-orang atau lembaga yang berkaitan dengan isu yang disebutkan. Selain itu, FGD ini juga bertujuan untuk menangkap informasi terkait kerja sama antara civil society Jepang dan Indonesia.  Juga untuk melihat bagaimana peran perempuan dalam proses penanganan bencana.

Diskusi ini dihadiri oleh beberapa komunitas kelompok rentan yang ada di Pasigala (Palu, Sigi, Donggala), seperti HWDI (Himpunan Wanita Difabel Indonesia), Komunitas Maleo (Gema Lentera Peduli Tadulako), dan juga beberapa komunitas dan lembaga lain yang mengikuti diskusi. Ada juga salah satu anak dari korban pelanggaran HAM berat masa lalu yang hadir, dan juga mewakili ibu-ibu penenun Donggala untuk berbagi ceritanya.

Selain menggali informasi tentang bagaimana penanganan bencana berperspektif gender dilakukan di Indonesia, tepatnya di Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnalis yang berasal dari Negeri Sakura ini juga membagikan pengalaman tentang bagaimana negaranya menangani kelompok rentan saat bencana terjadi. Dan juga kebijkan-kebijakan yang diberikan oleh pemerintah Jepang kepada kelompok difabel.

“Saya memilih untuk masuk ke HWDI, karena difabel wanita mendapatkan diskriminasi ganda. Selain mendapatkan diskriminasi karena dia perempuan, dia juga didiskriminasi karena seorang difabel.” Ungkap Samsinar, ketua HWDI yang mengalami pembekokan tulang belakang akibat kecelakaan sejak kelas 4 SD. Samsinar bercerita tentang bagaimana perjalanan teman-teman HWDI melakukan advokasi ke pemerintah, sampai dikeluarkannya Peraturan Daerah tentang perlindungan dan pendidikan untuk kelompok difabel.

Dalam diskusi ini juga membahas tentang bagaimana konsep feminisme mulai banyak diterapkan  di Indonesia, yang awalnya sangat kental dengan konsep patriarki. Nurlaela Lamasitudju (Sekjend SKP-HAM) dan Moh. Syafari Firdaus menerangkan tentang beberapa daerah di Indonesia yang sudah menganut konsep feminisme, tapi justru konsep  tersebut disalah artikan oleh sebagian masyarakat sehingga terjadi kesalahan dalam beberapa prakteknya.

“Di Jepang juga terjadi masalah yang sama, bahkan ada juga kaum laki-laki di Jepang yang membenci konsep feminisme.” Ungkap Noriko Akiyama dalam diskusi mengenai feminisme, yang disampaikan dalam bahasa Jepang dan diartikan oleh salah seorang penerjemahnya.

Diskusi antara kelompok rentan, SKP-HAM, dan Noriko Akiyama berjalan dengan sangat baik, dan juga terjadi timbal balik yang positif antara ketiganya. Setelah diskusi berakhir, Noriko Akiyama melakukan wawancara pribadi dengan perwakilan dari setiap komunitas, termasuk juga Nurlaela Lamasitudju dan Moh. Syafari Firdaus yang menjadi fasilitator dalam diskusi tersebut.***

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Rini Lestari

Leave a comment